BIRRUL WALIDAIN

Posted by ZUARDI ZAIN Minggu, 16 Agustus 2009 0 komentar
"DanTuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu,maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya,dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku ! Sayangilah keduany sebagaimana mereka telah mendidik aku pada waktu kecil”Q.S.17.Al-Isra’:23-24 Sari isi ayat tersebut: 1. Jangan menyembah selain Allah. 2. Supaya berbuat baik kepada ibu bapak. 3. Jangan mengucapkan semisal kata “AH” kepada ibu bapak. 4. Jangan membentak ibu bapak. 5. Berikan kasih sayang kepada ibu bapak 6. Mohonkan do’a kepada Allah agar memberikan kasih sayang kepada keduanya. Pada suatu hari tahun sembilan belas delapan puluhan seorang teman dengan kegiatan sehari-harinya sebagai seorang wiraswasta atau pengusaha muda yang berhasil, menyampaikan kepada kami (curhat) mengenai keluhan yang dialaminya dalam hidup kesehariannya.Dia mengatakan bahwa tidak merasa tenang alias gelisah, selalu saja ada gejolak dihati yang menjadikan hatinya tidak tenang, sementara tidak jelas penyebabnya.Padahal dari segi materi sudah lebih dari cukup demikian pula fasilitas yang dimiliki juga cukup memadai begitu pula dari segi keturunan dia diberikan amanah oleh Allah berupa anak baik laki-laki maupun perempuan.Sementara itu perusahaanya sedang berkembang dengan pesat Ditilik dari bidang agama dia teratur membayarkan zakat dan senang membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan seperti orang terlantar maupun orang miskin,dia suka memberikan infaq dn sedekah yang dianjurkan agama.Untuk ibadah shalat malah dia orang yang mencintai shalat dengan berjama’ah,sehingga apabila kita datang kekantor perusahaannya pada waktu-waktu menjelang masuk waktu shalat seperti shalat zuhur maka tidak ada karyawannya yang sedang bekerja tetapi semua sedang bersiap-siap untuk menuanaikan shalat,demikian pula menjelang masuk waktu ashar akan terlihat suasana yang sama. Kehidupannya dalam rumah tangga komunikasi dengan isteri dan anak-anaknya berlangsung dengan lancar dan baik.Pergaulannya ditengah-tengah masyarakat dimana dia berdomisili atau bertempat tinggal hubungan dengan tetangganya juga baik sehingga tidak ada orang keliling rumahnya yang tidak kenal dengannya bila ada tamu yang belum mengetahui persis rumahnya begitu ditanyakan kepada tetangganya pastilah akan diberitahukan atau ditunjukkan,ini tentu karena hubungannya dengan tetangga memang ada komunikasi yang terjalin dengan sesama tetangga.Demikian pula partisipanya dalam berbagai kegiatan dilingkungannya cukup tinggi sehingga berbagai keperluan kegiatan yamg memerlukan bantuannya akan selalu mendapat perhatian dan bantuannya. Namun kenapa dia dalam kesehariannya tidak merasakan sebuah ketenangan yang sepantasnya dia punyai atau dia rasakan.Ternyata setelah ditelusuri bagaimana hubungannya dengan orang tuanya atau ibu bapakanya,disinilah sebuah kewajibannya yang terabaikan.Bapaknya memang sudah sejak lama meninggal dunia yaitu semasa dia masih dalam usia remaja.Ibunya masih hidup dan tinggal sendirian didesa kelahirannya. Pada waktu ditanyakan apakah ibunya pernah diajak tinggal bersama isteri dan anak-anaknya ? dia menjawab pernah tetapi,ibu saya tidak betah atau tidak kerasan tinggal bersama isteri dan anak-anak saya,ibu hanya sempat tinggal bersama kami selama lebih kurang tiga bulan,kemudian dia bersikeras untuk kembali kekampung atau desa tempat kelahirannya.Berbagai cara telah kami tempuh supaya ibu tetap tinggal bersama kami namun tidak berhasil dan ibu tetap dengan pendiriannya untuk kembali tinggal dikampung atau didesa tempat kelahirannya,walaupun dia tinggal sendirian yang waktu malam ditemani oleh murid-murid yang mengaji dengan beliau. Kemudian teman tersebut mengatakan bahwa dia bersama isteri dan anak-anaknya hanya mengunjungi ibu setahun sekali pada waktu hari raya Idul Fitri,dan setiap bulan kebutuhan ibu selalu kami cukupi dengan mengirimkan uang yang kami anggap atau kami perkirakan dibutuhkan ibu,malah kami anggap kami telah memberikan jauh melebihi dari kebutuhan yang sesungguhnya dan ibu tidak pernah mengeluhkan apapun kepada kami baik kepada saya maupun kepada isteri ataupun kepada anak-anak kami. Ditanyakan kepada teman tersebut apakah pada waktu mengunjungi ibu kekampung setahun sekali itu dismbut dengan gembira oleh ibu ? jawabnya ibu sangat gembira sekali dapat berkumpul bersama saya,isteri dan anak-anak kami.Malah beliau terlihat sedih bila waktunya kami harus kembali kekota. Berdasarkan penuturan teman tersebut yang cukup panjang lebar maka,disarankan kepadanya supaya dalam waktu dekat dia beserta isteri dan anak-anaknya berangkat pulang kekampung untuk:Pertama memohon ma’af segenap kesalahannya,kesalahan isteri dan anak-anaknya kepada ibunya sampai ada jawaban bahwa ibu mema’afkan semua kesalahan mereka.Kedua setelah mendapatkan ma’af dari ibu maka ajaklah ibu bersama-sama pergi ziarah kekuburan bapak. Alahamdulillah saran ini diterima oleh teman tersebut dan dalam waktu relatif segera dia bersama isteri dan anak-anaknya melaksanakan saran tersebut sehingga,dalam pertemuan anak dan cucu serta menantu yang sebelumnya tersimpan perasaan yang tidak terungkapkan dengan penuh haru biru masing-masing deraian air matapun tak terbendung yang berlansuing beberapa saat dengan saling rangkul dan peluk cium yang dibasahi hujan air mata mereka larut dengan diabarengi ungkapan penyesalan dan kata yang terputus terbata-bata,akhirnya mereka melanjutkan ajakan kepada sang ibu untuk pergi ziarah kekuburan almarhum bapaknya.Mendengar ajakan anak kepada ibu untuk berziarah ini kembali air mata sang ibu bercucuran tak terbendung derasnya diiringi suara yang sayup-sayup sebagai ungkapan keharuan sang ibu yang selama ini,dalam bilangan hampir lima belasan tahun sang ibu rupanya hanya menziarahi kuburan almarhum suaminya seorang diri tanpa ada siapa-siapa yang mendampinginya.Putera puterinya ada empat orang tapi,semuanya tinggal berjauhan berlainan kota dengannya bahkan ada yang berjarak melewati beberapa provinsi dn berlainan pulau pula.Sepanjangperjalanan dari rumah menuju perkuburan dimana jasad suami tercinta ayah dari anak-anaknya serta kakek dari cucunya dimakamkan. Sesampai dipintu gerbang komplek perkuburan dengan terlebih dahulu membaca do’a ketika seorang muslim disuruh membacanya saat mendatangi perkuburan.Kembali lagi air mata mereka berjatuhan menyadari masa lalu yang begitu panjang terutama sianak dan menantu serta cucu-cucu yang jumlahnya tiga orang,tidak pernah melakukan kunjungan ziarah sejak mereka membina rumah tangga.Teman inipun begitu sampai dikuburan bapaknya langsung menyampaikan permohonan ma’af yang diikuti oleh isteri dan anak-anaknya.Lama juga waktu yang mereka gunakan sehingga walaupun mereka pergi agak pagi hari namun mereka baru meninggalkan komplek perkuburan setelah sinar matahari terasa pedih menyengat kulit kataklanlah sekitar pukul sepuluh lewat.Sebenarnya mereka tidak begitu merasakan sengatan terik matahari itu karena,mereka larut dalam perasaan keterharuan yang luar biasa sehingga mereka merasakan bagaikan berada ditaman syurga dengan perasan tenang plong dan bahagia yang diselimuti keharu biruan yang tidak pernah mereka rasakan sebelum ini. Sejak itu teman ini alhamdulillah diberikan ketenangan jiwa dan ditambah lagi dengan keharmonisan rumah tangga mereka yang sehari-hari lebih dirasakan kehangatan hubungan didalamnya.Dan sejak itu pula teman ini bersama isteri dan anak-anaknya selalu mendo’akan kedua orang tua mereka,bahkan ibu juga merasakan senang dan tenang tinggal serumah bersama anak menantu dan cucunyanya yang selalu ceria memberikan kasih sayang kepadanya. Sebelumnya mereka mengira bahwa dengan memberikan dana atau uang yang demikian banyak kepada ibu,sudah mereka anggap sebagai sikap yang sudah memadai untuk memberikan bakti atau berbuat baik kepada orang tuanya.Ternyata itu semua adalah hampa tanpa makna bagi ibu dan tidak memberikan ketenangan baginya terutama bagi teman ini begitu juga bagi isteri dan anak-anak mereka. Nyatalah bagi kita bahwa bukanlah materi yang menjadikan seorang hamba mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan tapi dibalik itu ada rahasia hidup yang perlu diungkapkan dalam sikap keseharian khususnya dalam hubungan dengan ibu dan bapak.Pada waktu sianak masih kecil maka ibu dan bapak yang memberikan kasih sayang ,sebaliknya pada waktu ibu dan bapak berada diusia lanjut maka sianak berkewajiban memberikan kasih sayang kepada ibu dan bapaknya.Inilah rahasia hidup yang wajib diungkapkan dengan sikap oleh seorang anak kepada orang tuanya baik kepada ibu mauipun kepada bapaknya. Semasa kedua orang tua masih ada nyawa dikandung badan mereka sepantasnyalah seorang anak berbuat baik kepada mereka.Apalagi bila mereka bersedia tinggal bersama dengan sianak merupakan sebuah kesempatan besar untuk membaktikan diri kepada mereka karena,pada ayat 23 surah Bani Israil Allah setelah memerintahkan jangan menyembah selain Dia kemudian menyuruh untuk berbuat ihsan kepada kedua orang tua atau ibu dan bapak.Apalagi setelah mereka sampai berusia lanjut.Namun hal ini tidak semua anak dapat dan mampu untuk melaksanakannya karena sangat tergantung kepada keimanan dan kesabaran seorang anak,apalagi sianak telah berumah tangga dan sudah pula mempunyai anak yang juga merupakan tanggung jawabnya. Barangkali semua anak manusia ingin membaktikan dirinya kepada orang tuanya apalagi anak-anak muslim.Namun ada saja halangan untuk melaksanakan keinginan tersebut,sering terlihat atau terbukti dalam kenyataan,isteri atau sebaliknya suami yang tidak setuju atau menjadi penghalang untuk melaksanakan keinginan tersebut.Salah satu cara supaya isteri atau suami tidak menjadi penghalang untuk melaksanakan keinginan tersebut adalah diperlukan semacam kontrak yang harus disepakati sebelum menikah bahwa kedua suami dan isteri bersedia dengan ikhlas hati dalam rangka pengabdian kepada Allah maka,mereka sepakat untuk berbuat ihsan kepada kedua orang tua mereka kedua belah pihak sampai dengan merawat mereka dan memberikan kasih sayang tinggal serumah dalam kehidupan mereka. Hal ini perlu menjadi perhatian bagi anak-anak yang belum membina rumah tangga supaya kelak mereka tidak saling menyalahkan atau menjadi penghalang bagi salah satu pihak untuk berbakti kepada orang tuanya.Kontrak semacam ini suaatu hal yang terpuji bagi seorang anak yang saleh.Kontrak kerja saja biasa dilakukan dan begitu pula malah kontrak politik sudah merupakan suatu keharusan dikalang masyarakat,oleh karena itu maka sepantasanya pulalah bahwa salah satu bentuk kontrak dalam kehidupan ini adalah kontrak rumah tangga.Bagi seorang muslim pada masa yang akan datang hal ini malah sebuah keharusan supaya tidak terjadi perselisihan kelak setelah dihadapkan kepada permasalahan untuk birrul walidain.Bagi seorang muslim tidak sama dengan orang non muslim yang tidak mempunyai ajaran untuk berbuat baik kepada ibu dan bapak sehingga,mereka membudayakan panti-panti jompo untuk tempat menitipkan orang tua mereka pada usia lanjut. Panti jompo bukanlah budaya Islam.Dan Islam tidak membudayakan pemeliharaan ibu dan bapak dengan menitipkan mereka dipanti jompo tapi,islam mengajarkan supaaya kita berbuat ihsan kepda ibu bapak dan diusahakan dapat tinggal bersama dalam pengasuhan dan mendapatkan kasih sayang dari anak dan dan cucu mereka.Disinilah kesempatan sianak dapat lebih banyak memberikan perhatian kepada ibu dan bapaknya.Sehingga manakala sianak berhasil mendapatkan redha ibu dan bapaknya dengan memberikan kasih sayang kepada mereka maka Allah pun akan meredhai kehidupan sianak karena,Rasulullah Muhammad SAW.mengingatkan dengan hadis beliau yang artinya “redha Allah terletak diatas redha kedua ibu dan bapak”. Disamping itu kita berbuat baik kepada ibu dan bapak merupakan salah satu amal perbuatan yang sangat dicintai oleh Allah SWT.sebagaimana hadis beliau dari Abdullah bin Mas’ud r.a.yang artinya;” Aku bertanya kepada nabi SAW.amal apakah yang paling dicintai Allah Ta’ala ? Beliau menjawab “shalat [pada waktunya” Kemudian aku bertanya lagi,apa lagi ? Beliau menjawab “berbuat baik kepda kedua orng tua”Aku berkata;;kemudian apa lagi ? Beliau menjawab “Jihad di jalan Allah”. Demikianlah semoga kita sebagai orang yang beriman dapat berbuat baik kepada ibu bapak yang masih hidup dengan memberikan kasih sayang kepada mereka dan mendo’akan mereka.Dan bagi orang tuanya yang sudah meninggal selalulah mohon do’a kepada Allah semoga diberikan keampunan kepada keduanya dan diberikan kasih sayang sebagaimana mereka telah memberikan kasih sayang kapada kita semasa kita masih kecil.”Siapa yang berbuat baik kepada ibu bapaknya niscaya anaknya akan berbuat baik pula kepadanya. oLEH:ZUARDI ZAIN
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: BIRRUL WALIDAIN
Ditulis oleh ZUARDI ZAIN
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://zuardizainsakinah.blogspot.com/2009/08/birrul-walidain.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Poskan Komentar